Ide untuk berinovasi ternyata bisa datang dari mana aja. Asal jeli mengamati sekitar, peluang kamu untuk mencipta sesuatu yang bermanfaat akan selalu ada.

Contohnya kayak yang dialamin Hanifah nih. Bersama teman-temannya, mahasiswi Teknik Lingkungan ITB ini berhasil bikin temuan yang mungkin terkesan sederhana, tapi punya manfaat besar dan esensial.

Temuannya tersebut adalah tempat cuci tangan yang airnya bisa diaur ulang untuk digunakan di area penjaja makanan kaki lima.

Alat yang dinamai “REWAPS” ini sudah pernah meraih penghargaan presentasi terbaik di ajang Hokkaido Indonesian Students Association Scientific Meeting (HISAS) akhir Maret lalu lho.

REWAPS yang praktis ditaruh dekat lokasi street food vendor

Awal keunculan ide ini pada dua tahun lalu tidak lepas dari keprihatinan Hanifah dan temannya, Hana Fauziah dengan sesuatu yang sudah dianggap lazim di masyarakat tapi sesungguhnya tidaklah sehat : cuci tangan pakai kobokan ketika makan di warung pinggir jalan.

Ternyata cuci tangan di kobokan itu nggak sesuai dengan standar kebersihan lho

Di sekitar daerah ITB dan Masjid Salman, banyak sekali warung-warung tenda dan gerobak makanan yang berdagang setiap harinya. Tapi, sanitasinya buruk dan persediaan air bersih pun susah di dapat.

“Kami saat itu sangat prihatin dengan kondisi sanitasi PKL sekitar kampus ITB dan Masjid Salman tentunya.

Orang-orang cuci tangan pakai air kobokan, padahal itu tidak sesuai dengan standar cuci tangan yang baik dan benar,” jelasnya.

Kondisi sanitasi di lokasi PKL sekitar ITB. Tempat mencuci seperti ini juga lazim ditemui di warung tenda lainnya di Kota Bandung.

Apalagi, kondisi tersebut juga nggak hanya ditemui di sekitar ITB, melainkan hampir di setiap warung makan pinggir jalan di Kota Bandung yang notabene adalah salah satu kota destinasi wisata kuliner di Indonesia.

Plus, dari hasil penelitian mereka, jumlah pedagang di Bandung meningkat 10 persen selama tiga tahun terakhir.

Nah, jadilah mereka mulai mengembangkan tempat cuci tangan yang airnya dapat dipakai berulang kali berkat filter penjernih yang terdiri dari silica, zeolit, karbon aktif, antrasit, dan tablet klorin bila diperlukan.

Filter penjernih tersebut disusun dalam wadah penampung air setinggi 1 meter,dimana di bawah filter tersebut tersimpan reservoir air.

REWAPS bahkan diklaim mudah dioperasikan pada saat-saat darurat seperti kondisi bencana alam

Air dalam reservoir akan ditarik melalui pompa kaki untuk keluar sebagai air cuci tangan. Air tersebut nantinya akan mengalir ke dalam filter untuk dibersihkan dan digunakan kembali. Praktis kan?

“Kami selalu tertarik dengan tema-tema berbau sustainable development. Alur berpikirnya, kami bukan cari lomba terus mikir idenya.

 

Tapi kami nyari masalah yang kekinian di Indonesia, dibandingin sama tantangan, bikin ide, baru kita cari kesempatan untuk berkembang melalui event atau kompetisi,” jelas Hanifah.

Saat ini, REWAPS tengah berada dalam tahap riset pengembangan agar kelak bisa dipatenkan dan diproduksi.

“Yang paling penting, kita ingin banyakin riset dulu,” ungkapnya.

Well, sukses terus ya!***

Teks : Khansa

Foto : Dok. Hanifah Nurawailah, Hana Fauziah, Rifqi Fathul Azhar, Maulida Zafitri