Sumber: Hipwee

Kalau ada pertanyaan, “Kenapa anak yang suka sastra itu layak dijadikan mantu idaman? Begini nih jawaban anak-anak Lingkar Sastra ITB. Ada yang kocak bin nyastra, ada yang serius bin nyastra juga. Intinya mah nyastra. Wkwk


Coba temukan jawaban Fabi  dari Biologi ITB 2016 yang hobi banget sama sastra. Fabi beserta kawan-kawan Lingkar Sastra lainnya juga banyak mencetak buku-buku yang berisi kumpulan karya sastra, termasuk karya mereka. Dengan logat khas Jawanya berkata bahwa orang Jawa kan liat calon mantu dari bobot nya. Nah, anak sastra ini punya bobot yang oke punya.
“Anak sastra punya semua. Bobotnya, pelamaran tu menggunakan kata-kata yang wah, yang indah. Nanti tu calon mertua sampai lupa asumsi awalnya. Udah nggak mandang kerjanya apa karena terpikat kata-katanya,” ujar Fabi.

“Selain itu..” Fabi menambahkan. “Selain itu sih.. kayanya nggak ada lagi,” pungkasnya.

Wakakak, sa ae.

Setelah itu, Fabi menambahkan dengan jawaban serius.

“Saya bisa membina anak bapak dengan baik, menenjukkan jalan yang benar. Meskipun kami tu dilihat remeh tanpa kerjaan. Kerjaan ga jelas, di rumah, jalan-jalan sama nulis.

Tapi… tapi apa ya. Sebenarnya nggak ada tapinya. Tapi bisa mengajak anak bapak untuk mengajak anak bapak untuk melihat dunia yang lebih luas. Dunia yang mungkin tidak dilihat banyak orang,” kata Fabi.

Jika Fabi menjadi sastrawan, Fabi mungkin akan menyatakan ini kepada bapak camer.
“Ketika dimensi materi/fisik sudah tidak utama lagi dibandingkan dengan ketika diajak menyelami kata-kata. Saya  menjanjikan bukan kekayaan  finansial, tapi kekayaan batin kepada anak bapak,” pungkasnya.

Huwooo pernyataan epik itu mengundang kehebohan dari teman-tan yang mendengarnya.

Iqbal dari 2016 SITH rekayasa .
Ada rekan Iqbal dari SITH 2016 yang juga demeeen banget nulis sastra.  “Kenapa anak yang suka sastra layak untuk dijadikan menantu idaman?” Ini jawaban Iqbal.

Kata Iqbal, anak-anak yang suka sastra biasanya peduli dengan fenomena sosial. Bianya mereka menjadikan fenomena sosial sebagai bahan bersastra gitu.

“Jadi biasanya dia lebih peka dengan sekitarnya. Mungkin itu yang jadi ciri khas mantu idaman,” Kata Iqbal.

 

Kemudian Iqbal menambahkan. “Dia bisa menceritakan sesuatu yang sederhana menjadi berkesan. Ada kan puisi-puisi tu, yang.. seperti ini nih contohnya,” lalu Iqbal mengambil salah satu dari banyaknya yang terhampar rapi di meja.

 


(Mohon maaf fotonya burem. Intinya ini tulisannya cuma bilang: “Pengen kawin” lol)

Nah terakhir, Tamansarian berjumpa dengan anak teknik Fisika 2011, Asra. Jawaban Asra cukup dalem dan diplomatis. Eaak.

Asra suka banget sama sastra dan sudah hobi baca sejak SD. Nah, soal anak yang doyan sastra pantes jadi mantu idaman, Asra agak nggak sepakat. Idaman ya idaman, sama saja bagi latar belakang dan hobi apapun.

“Semua orang punya idaman masing-masing. Ada yang sukanya sastra ada yang sukanya main bola. Nggak bisa dibandingin. Kalau kita sukanya sama yang suka sastra ya cocok,” kata Asra.

 

 

“Ternyata bagiku menulis membaca itu bukan soal mertua bukan soal pasangan. Lebih ke diri aja gitu. Sebagai jalan untuk mengolah laku diri, mengolah tindakan. Serius pisan ya,” Asra pun tersadar bahwa ucapannya amat serius. Haha

Lalu Asra menambahkan, “Tapi aku juga entah kenapa kesal kepada orang-orang yang menggunakan sesuatu untuk tujuan yang terpatok buat deketin pasangan,” hmmm curhat kah, Bang Asra?

Bagi Asra, bidang apapun bisa menjadi poin plus untuk diri sendiri. Ketik menulis dan membaca, Asra mendapatkan jalan pencerahan untuk diri sendiri.

“Jalan pencerahan itu kan ada mungkin melalui dari baca, nulis, futsal, apapun itu. Bukan untuk dapat sesuatu, kecuali pencerahan. Kan pencerahan juga kita nggak tau, soalnya hidayah itu kan dari Allah SWT,” tutup Asra.

Nah begitulah anak-anak yang hobi sastra menjawab. Kamu anak sastra? Atau kamu punya bapak mertua yang suka sastra? #lho.[Evy]