Anak mahasiswa suka bertanya-tanya, palagi yang sudah mau lulus. Habis lulus mau ngapain? Ada yang  bisnis, nikah, atau kebanyakan sih ya nyari kerja. Menghadapi saingan dari ribuan sarjana lain jebolan berbagai universitas. Hampir tiap pekan, ribuan job seeker memadati ruangan bursa kerja untuk nge-drop CV kerennya.

Biasanya, dalam proses pelamaran kerja, jika CV sudah approved, akan ada yang namanya psikotes dan wawancara.
Kalau ada tes-tes beginian, penulis KO di ambang wawancara, haha.

Nah makanya, pas penulis maen-maen ke Jobfair dari kampus seberang, “Telkom University Job Expo ” di Landmark kemaren (Kamis-Jumat/ 20-21 April 2017). Di sana penulis singgah ke stand Tel-U Career dari Telkom University untuk berkonsultasi soal karir dan proses seleksi pekerja. Di stand tersebut ada dua konselor yang siap membantu kita permasalahan kita dalam mencari jodoh, eh salah, karir.  Pertama, penulis maen ke booth simulasi wawancara berbahasa Inggris. Wah lumayan gorgir eh grogi. Hehe. Pura-puranya, penulis akan melamar sebagai ‘English Instructor’ penulis ditanya mengapa memilih bidang job tersebut. Kemudian, apa skill yang kita punya dan apa kontribusi yang diberikan untuk perusahaan.

Karena mendadak banget, apalagi harus pake bahasa Enggres, penulis jawabnya ala kadarnya. Haha. Nah, akhirnya kita dapet koreksi deh. Kata masnya, bahasa Inggris saya sudah lumayan (ceilah), tapi harus perhatikan nyambungnya jawaban dengan pertanyaan. Setelah itu, penulis menyambangi konselor berikutnya untuk bertanya soal tes wawancara.

Nah kali ini penulis akan mencoba meresume beberapa kiat yang penulis dapet untuk menjawab pertanyaan HRD saat wawancara. Kiat ini penulis dapat baik dari konseling, internet, maupun pengalaman pribadi.

1. Kenali Diri Kita
Biasanya nanti kan ditanya, apa kelebihan diri, apa hobi, apa yang tidak kamu sukai. Nah coba gali dulu nih seperti apa diri kita. Apa potensi kita. Untuk tahu potensi, bisa aja kita ingat-ingat apa yang membuat kita bahagia ketika mengerjakannya, rela bermelek-melek mata hingga tak berasa waktu yang sudah berlalu (tsah). Bahkan coba deh coret-coret dulu di kertas tentang apa yang kita sukai. Kalau mampet banget ya jangan sungkan untuk datang dan konsultasi ke lembaga psikologi.

2. Banyak kepo-kepo tentang perusahaan yang kita tuju. Ibarat mau melamar gadis, kan harus tahu gimana latar belakang keluarga itu, apa kesukaannya, dsb. Kalau soal perusahaan, kan biasanya suka ada tuh informasinya di internet. Atau tanya-tanya ke relasi yang memang sudah pernah melakukan tes wawancara atau bahkan bekerja di sana.

3. Pastikan juga jawaban kita spesifik sesuai dengan pertanyaan. Saat ditanya kelebihannya apa, jawablah yang spesifik dan sesuai dengan kebutuhan recruitment yang kita tuju. Jika ditanya, “apa kelebihan yang bisa Anda beri untuk perusahaan?” Jangan hanya bilang saya bisa bekerja keras. Gunakan jawaban speifik seperti ‘saya bisa bekerja dalam team’
Berapa gaji yang Anda inginkan?
Nah untuk fresh graduate, biasanya pada malu dan bingung untuk mengungkapkan berapa gaji yang dimau. Sebenarnya nggak papa kok kalau kita langsung sebut nominal gaji yang kita harapkan. Asalkan realistis ya.

4. Selanjutnya, pastikan kita sudah percaya diri dan tenang. Ini sangat penting. Untuk bisa percaya diri, pastikan diri kita udah rapih dan bersih, sudah gosok gigi dan pake pengharum ket*iak (lho).  Tarik nafas dalam-dalam. Pokoknya relaks. Jika terlalu grogi, jawaban malah nggak muncul. Jangan lupa ya, berdoa yang banyak. Ini akan membantu menentramkan batin antum semua.

Begitulah sekelumit kiat yang bisa disampaikan. Semoga bisa membantu ya!