Minggu (23/4) kemarin, Lapangan Cinta ITB nggak kayak biasanya ; ramai dikunjungi keluarga beserta anak-anaknya yang tak jarang terlihat berkostum imut.

Suasana saat itu juga ceria banget. Lapangan disulap jadi arena festival dengan hiasan warna-warni di tiap sudut. Sejak sekitar pukul sembilan pagi, jajaran stand yang menjual beragam buku, pernak-pernik anak sampai makanan mulai dikunjungi pembeli. Ada apaan sih?

Well, ternyata semua tengah merayakan World Book Day! Setiap tahunnya, World Book Day diperingati pada 23 April.

Nah, Pustakalana Library, yakni perpustakaan buku anak di Bandung, bekerjasama dengan sejumlah komunitas, menyelenggarakan Festival Hari Buku Anak (FHBA) yang khusus menangkat tema literasi anak sebagai benang merah dari rangkaian acara dan kegiatan di dalamnya.

Selama festival berlangsung, anak-anak bisa ikut beragam workshop dan aktivitas mulai dari yoga anak, belajar melukis dan bermain warna, menulis kreatif, bermain peran, hingga mendengarkan dongeng dalam berbagai bahasa!

Kerennya, para orangtua juga diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan diskusi publik dan talkshow bertemakan pengenalan buku dan literasi visual anak.

Wih, wisata keluarga paket lengkap pokoknya.

Tapi, sebenernya seberapa penting sih ngenalin anak dengan buku, sampai ada festival khusus untuk ‘merayakan’ nya?

Direktur divisi umum dan pediatri komunitas di Cincinnati Children’s Hospital, Dr. Thomas DeWitt, seperti dilansir dari Huffington Post menyatakan sebuah hasil penelitian bahwa kegiatan mengenalkan anak pada buku dan membaca lantang sejak dini memiliki pengaruh pada bagian otak yang memiliki peran inti mengembangkan kemampuan literasi.

Di antaranya, otak anak akan cenderung lebih aktif pada bagian yang membantu mereka membangun kecakapan narasi dan imajinasi visual, dibanding dengan anak yang tidak dikenalkan pada buku.

Nah, salah satu pengisi stand acara, Santi Hendriyeti, yang juga aktif mendirikan rumah penerbitan untuk buku anak-anak menyadari hal tersebut.

Oleh karena itu, ia bersama tim-nya sejak dua tahun lalu menerbitkan mandiri buku-buku anak bergambar yang mudah dipahami anak usia dini.

“Sebenarnya buku itu sebaiknya dikenalkan pada anak sejak sedini mungkin. Bahkan ketika masih bayi atau dalam kandungan, tak ada salahnya dibacakan cerita. Semakin sering interaksi dengan buku,  semakin besar keinginan anak untuk segera bisa membaca,” jelasnya ketika ditemui Tamansarian di sela acara.

Menurutnya, agar anak senang membaca, hal yang utama harus dimiliki adalah kebiasaan membaca pada orangtua lho.

“Orangtuanya harus suka baca,kasih contoh dulu. Kalau kita sudah suka membaca, tidak perlu bersusah payah mengenalkan, anak akan ikut baca sendiri,” ungkapnya.

Hm, gimana nih para calon mamah dan papah, sudahkah rajin membaca?

Ketika sibuk mempersiapkan tetek-bengek urusan pesta pernikahan dan perabot rumah tangga kelak, pastikan belanja buku dan jalan-jalan gratis ke festival buku anak masuk dalam to-do list mu ya!

 

Teks & Foto : Khansa