Trok tok tok!!! Banjiiiir banjiiiiir! Kentongan tanda datangnya banjir berbunyi keras dan warga pun berhamburan keluar. Dari jaman dulu aja, alat komunikasi emang dibutuhin banget buat masyarakat.

We can not not communicate, itu kata  Pak Paul Watzlawick.

 

Sekarang pun, teknologi dan media komunikasi makin canggih. Contohnya nih, ada karya anak ITB yang menemukan alat pendeteksi banjir Zephyrus. Jadi pas mau ada banjir, warga bisa dapet informasi melalui android dan sms satelit.  

Zephyrus merupakan sistem yang terdiri atas Automatic Water Level Recorder-Weather Station (AWLR-WS) sebagai alat pendeteksi parameter cuaca dan ketinggian air sungai.  Setelah sensor pada alat AWLR-WS ini menerima data cuaca dan ketinggian air, data akan dikirim ke server yang akan menyebarluaskan informasi tersebut melalui aplikasi Android dan SMS satelit.

“Sederhananya, kalau di daerah yang lebih tinggi hujan besar, dan ketinggian air sungainya nya telah mencapai ketinggian tertentu. Masyarakat bisa memperkirakan akan terjadi banjir atau enggak,” – Ahmad Wirantoaji Nugroho, ITB Meteorologi 2015, salah satu pencetus Zephyrus.

Ingat prinsip air kan? Mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah.: kan prinsip air ngalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah

Jadi, kalau pun yang di tempat rendah nggak hujan, kan berabe kalau ada kiriman air dari daerah yang lebih tinggi.

Nah, setelah informasi banjir sampai ke tangan masyarakat, masyarakat bisa prepare deh.

“Mereka bisa mulai menyiapkan diri gitu. Semisal pintu air yang belum terutup harus ditutup, barang-barang bisa segera dievakuasi ketempat yang lebih tinggi,” tambah mahasiswa yang biasa dipanggil Aji itu.

Aji nggak sendirian loh. Aji kerja bareng anggota-anggota tim yaitu Andryansah Bagas Warno Putra (Teknik Geologi 2015), Aufa Zalfarani Saprudin (Meteorologi 2014), Harry Alvin Waidan Kefas (Teknik Informatika 2014), dan Novianti Rossalina (Desain Produk 2015).

Kece ya. Awalnya sih Aji dan kakak-kakak tingkatnya merasa prihatin dengan kondisi banjir di Bandung Selatan. Usaha buat antisipasi juga belum maksimal.

Nah dari situ.. sebenernya belum terlalu terpanggil,” ujar Aji. Wedeh, terus apa yang bikin terpanggil?

“Bener-bener terpanggil untuk menjadikan zephyrus itu waktu selanjutnya saya ikut ke daerah Andir Bale Endah untuk ngecat penanda ketinggian air di tiang-tiang listrik yang ada disana. Nah setelah itu kan ngumpul tuh bareng warga disana, akhirnya warga cerita tentang permasalahan yang ada,” tambah Aji.

Menurut audiensi dengan masyarakat di Bale Endah Bandung, mereka butuh banget informasi seputar potensi datangnya banjir.

Ide brilian ini pun sedang diajukan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta, untuk menggalang dana.

Wuih, doain aja ya semoga lolos kakak-kakak dan dedek-dedek kita ini!