Asli buatan anak bangsa! Terinspirasi dari tradisi Sunda, Perelek

Istilah Anjungan Tunai Mandiri atau ATM pasti sudah tak asing lagi di telingamu. Mesin ini umumnya disediakan bank-bank untuk pengambilan uang bagi nasabahnya. Nah, kalau beras di ATM-in, gimana tuh, jadinya?

Rupanya, ATM Beras ini memang benar-benar ada! Di Indonesia pula! (Keprok keprok)

Mesin ini merupakan karya seorang alumni Teknk Elektro ITB angkatan 1980 bernama Pak Budiaji. Tujuan awalnya adalah membantu kaum miskin, yang bahkan tak mampu membeli makanan karena kemiskinannya.

Sebenarnya sudah ada program yang bertujuan seperti ini. Namun Pak Budiaji menganggap kualitas dari beras yang diberikan pemerintah kurang bagus.

Maka dari itu, ia mengajukan pengumpulan beras dengan cara yang berbeda , perelek.  

Perelek adalah sistem di mana orang-orang yang mampu menyisihkan sebagian dari berasnya untuk orang yang kurang beruntung. Tradisi perelek ini merupakan bagian dari adat Sunda terdahulu.

Warga yang menjadi sasaran diberikan kartu ATM untuk mengambil berasnya dengan proses yang mirip dengan pengambilan uang di ATM konvensional.

Pembagian kartu ini pun tak boleh sembarangan, harus dilakukan seleksi dan survey agar tidak salah sasaran. Ditakutkan ada penyalahgunaan jatah beras jika diberikan dengan asal.

Setiap kartu ini juga dilengkapi pengamanan PIN, sehingga jika ada kartu yang tercecer tak akan disalahgunakan oleh orang lain.

Jika seseorang ingin menggunakan mesin ini, para pemegang kartu akan menempelkan kartunya ke mesin ATM Beras dan langsung muncul tampilan PIN, lalu akan ada dua pilihan selanjutnya yakni cek saldo atau mengambil beras.

Bila memilih ambil beras, mesin akan menjalankan perintah itu dengan mengeluarkan beras seberat 3 kilogram lengkap dengan kemasan plastik yang disegel rapi. Dalam sekali transaksi, pengguna hanya boleh mengeluarkan 3 kilogram beras.

Setiap penerima kartu ATM akan mendapatkan jatah 15 kilogram per bulan. Jika warga berniat mengambil semua jatah sebulan sekaligus, juga boleh dilakukan dengan cara melakukan transaksi selama lima kali pengambilan.

Walaupun begitu, para warga dianjurkan mengambil 3 kilogram saja lalu habiskan sehingga bisa diatur dan merata bagi nasabah lain.

Uniknya, peresmian mesin ini dilakukan tepat di hari Pancasila karena program ini dinilai sebagai salah satu wujud penerapan Pancasila.

Sesuai dengan sila kelima, ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’, warga miskin pun bisa mendapatkan beras yang sama bagusnya dengan warga yang mampu secara gratis.

Semoga bisa menjadi inspirasi untuk merakit teknologi tepat guna, ya!

[Ilalang Dzahira Anwar]

Foto: Jabarprov.go.id